Sebagai motivator Indonesia, saya sering diminta pendapat soal musibah.
Tabah, ini satu kata yang ringkas. Cuma lima huruf. Namun tak mudah menjalaninya, terutama saat kita mengalaminya. Masalah. Musibah.
Akan tetapi, kita harus tetap berbaiksangka. Ada kebaikan di balik itu.
Kadang hadiah itu tak berbungkus indah, melainkan berupa masalah. Namun kalau kita tabah, kelak kita akan menemukan hikmah dan berkah. Sekali lagi, hikmah dan berkah.
Karena itu akan menaikkan level kita. Ibaratnya, ujian untuk naik kelas. Bukankah itu berkah?
Saya harap kali ini Anda sependapat. Semoga bermanfaat.
Motivator Indonesia
Motivator Indonesia Terkenal, Ippho Santosa, Tokoh Motivator Indonesia, Motivator Terbaik
Motivator Indonesia Ippho Santosa Anggap Masalah Itu Hadiah (Pesan Terbaik)
Motivator Indonesia, Motivator Terbaik, Motivator Indonesia Terbaik
Sebagai motivator saya sering diminta membahas soal masalah.
Inilah pesan dan penjelasan saya. Kadang hadiah itu tak berbungkus indah, melainkan berupa masalah. Namun kalau kita tabah, kelak kita akan menemukan hikmah dan berkah. Sekali lagi, hikmah dan berkah.
Izinkan saya bercerita pengalaman pribadi. Ketika ayah saya meninggal tahun 1999, saya pikir itu episode terburuk dalam hidup saya. Saya sempat terpikir untuk sejenak berhenti kuliah, karena keterbatasan ekonomi. Putus asa, mungkin Anda menyebutnya begitu. Sebutan itu ada benarnya.
Namun ibu saya mendorong saya untuk meneruskan kuliah, walaupun saat itu ibu saya tidak mengantongi uang yang memadai. Pas-pasan. Bertahun-tahun kemudian barulah saya tersadarkan, rupa-rupanya itu salah satu momentum terbaik dalam hidup saya. Ya, momentum terbaik.
Kenapa? Sebabnya, dari situlah saya bersumpah untuk sukses, tidak boleh hidup begitu-begitu saja! Harus sukses! Begitulah, kadang hadiah itu tak berbungkus indah, melainkan berupa masalah! Ujung-ujungnya ternyata, penuh hikmah dan berkah!
Saya harap Anda setuju.
Sebagai motivator saya sering diminta membahas soal masalah.
Inilah pesan dan penjelasan saya. Kadang hadiah itu tak berbungkus indah, melainkan berupa masalah. Namun kalau kita tabah, kelak kita akan menemukan hikmah dan berkah. Sekali lagi, hikmah dan berkah.
Izinkan saya bercerita pengalaman pribadi. Ketika ayah saya meninggal tahun 1999, saya pikir itu episode terburuk dalam hidup saya. Saya sempat terpikir untuk sejenak berhenti kuliah, karena keterbatasan ekonomi. Putus asa, mungkin Anda menyebutnya begitu. Sebutan itu ada benarnya.
Namun ibu saya mendorong saya untuk meneruskan kuliah, walaupun saat itu ibu saya tidak mengantongi uang yang memadai. Pas-pasan. Bertahun-tahun kemudian barulah saya tersadarkan, rupa-rupanya itu salah satu momentum terbaik dalam hidup saya. Ya, momentum terbaik.
Kenapa? Sebabnya, dari situlah saya bersumpah untuk sukses, tidak boleh hidup begitu-begitu saja! Harus sukses! Begitulah, kadang hadiah itu tak berbungkus indah, melainkan berupa masalah! Ujung-ujungnya ternyata, penuh hikmah dan berkah!
Saya harap Anda setuju.
Motivator Indonesia Ippho Santosa Ingatkan Tentang Sumber Semangat (Pemahaman Yang Terkenal Sejak Lama)
Sebagai motivator Indonesia, saya pernah mengingatkan bahwa kitab suci hendaknya menjadi sumber semangat dan sumber solusi. Pemahaman ini terkenal sejak lama, bukan baang baru. Mungkin Anda pernah mendengarnya.
Nah, dengan pemahaman dan pola pikir seperti ini, maka ketika
bekerja:
- ia akan sungguh-sungguh dan tidak suka menunda-nunda (baca QS 94:7).
-
ia akan berusaha mematuhi
pemimpinnya (baca QS 4:59).
-
ia akan menghormati rekan
kerjanya (baca QS 28:77).
-
ia tidak akan iri kepada
rekan kerjanya (baca QS 4:32).
- ia tidak akan curi-curi waktu apalagi curang (baca QS 83:1-3).
Dan jadilah Productivity with Spirituality. Bukankah itu hebat? Sangat!
Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Motivator Indonesia Ippho Santosa Ingatkan Soal Bakti Terbaik (Terkenal di Langit)
Motivator Indonesia, Motivator Terbaik, Motivator Terkenal
Membahagiakan orangtua terutama ibu
bukan sekedar ucapan. Yah boleh-boleh saja, tapi bukan itu yang utama.
Bagaimana kita memuliakan dan membahagiakan mereka setiap harinya, itu jauh
lebih utama. Mari berikan bakti terbaik.
Tanyalah ibu manapun, pastilah mereka senang teramat sangat kalau
anaknya nggak neko-neko, anaknya selalu perhatian, anaknya selalu sholat (bagi
yang muslim), dan seumpamanya. Betul apa betul? Sebagai motivator Indonesia, saya sering mengingatkan ini.
Percayalah, bukan uang yang paling
mereka harapkan. Coba lihat di luar sana, betapa banyak anak yang miskin namun
berhasil memuliakan dan membahagiakan ibunya, karena memang si anak ini penuh
perhatian. Ia mengalokasikan waktu untuk ibunya. Makan bareng. Jalan bareng.
Libur bareng. Ketika jauh, ia pun sering menelepon atau WA ibunya.
Coba baca
kalimat tadi baik-baik. Apa susahnya? Nggak susah kan? Nggak harus pakai uang
kan? Bagi seorang ibu, mungkin ini yang dianggap bakti terbaik dari anaknya. Bukan soal uang. Sempatkan 5 detik untuk share artikel ini kepada teman-teman dan keluarga
anda. Mengingatkan mereka.
Terhadap atasan atau orang asing, kita
sering mengucapkan, “Pak, ada yang bisa saya bantu?” Pernahkah kita
mengucapkan ini kepada ibu? Kalau terhadap atasan atau orang asing saja kita
bisa santun, mestinya kepada ibu kita bisa lebih daripada itu. Lebih!
Jangan
sampai orangtua keburu meninggal dan kita menjadi anak yang menyesal. Lalu,
anak kita pun ikut-ikutan lalai dan abai kepada kita, karena mereka
jarang-jarang melihat contoh berbakti dari kita.
Pada akhirnya, semoga kita semua
dimampukan untuk memuliakan dan membahagiakan ibu kita. Insya Allah kita akan terkenal di langit. Dicatat sebagai amal. Saya, Ippho Santosa,
turut mendoakan dari jauh.
Motivator Indonesia Ippho Santosa Berbagi Pengalaman Terbaik Tentang Etnis Tertentu
Sebagai motivator Indonesia, izinkan saya kali ini menyampaikan pengalaman pribadi saya. Salah satu pengalaman terbaik. Tentang etnis Cina di Indonesia. Tepatnya, Tionghoa.
Sedikit-banyak, saya mengenal etnis Cina
sejak lama. Kebetulan atau tidak, nenek saya dan nenek istri saya keturunan
Cina (Tionghoa), walaupun terhitung rada jauh dari segi silsilah. Saya pun
belajar 9 tahun di sekolah yang setengah siswa-siswanya beretnis Cina, demikian
pula guru-guru di sekolah itu. 9 tahun, bukan waktu yang sebentar.
Ketika saya
kuliah dan kesusahan di Malaysia, tak disangka-sangka, saya dibantu oleh
seorang Chinese berkebangsaan Malaysia. Julian namanya. Meski beda etnis dan
beda kebangsaan dengan saya, namun itu tidak menghalangi kebaikannya kepada
saya. Semoga Yang Maha Kuasa selalu merahmati beliau dan keluarganya. Namun hal
sebaliknya juga pernah terjadi, di mana seorang Chinese pernah mencurangi
bisnis saya.
Terus, apa hikmahnya? Jangan rasis. Jelas tho, perbuatan baik atau buruk, itu soal orangnya. Bukan soal etnisnya. Apa
pendapat teman-teman?
...
Motivator Terbaik Yang Harus Kita Cintai (Pesan Ippho Santosa Untuk Indonesia)
Motivator Terbaik, Motivator Indonesia
Anda ngefans sama siapa?
Jason Statham atau Robert Downey Jr?
Justin Bieber atau Tayor Swift?
Ngefans berat?
Sungguh, kelak kita akan dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai, walaupun kita belum pernah bertemu dengan orang-orang tersebut. Itu pesan guru saya.
Oleh karenanya, pastikan kita mencintai orang-orang yang tepat. Tatkala kita mencintai seseorang, maka kita akan senantiasa menyebut-nyebut namanya. Dengan senang hati pula kita menuruti kata-katanya, juga membelanya.
Dan manakala orang lain menyebut namanya, hati kita langsung bergetar! Itulah tanda-tanda cinta!
Cinta kadang tak perlu diucapkan. Namun terlihat nyata dari sikap kita. Apakah kita sering menyebut-nyebut namanya? Apakah kita menuruti kata-katanya? Begitu terdengar namanya, apakah hati kita langsung bergetar?
Sekali lagi, pastikan kita mencintai orang yang tepat. Bagi seorang muslim, hendaknya ia mencintai Nabi Muhammad dan beliaulah motivator terbaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Anda ngefans sama siapa?
Jason Statham atau Robert Downey Jr?
Justin Bieber atau Tayor Swift?
Ngefans berat?
Sungguh, kelak kita akan dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai, walaupun kita belum pernah bertemu dengan orang-orang tersebut. Itu pesan guru saya.
Oleh karenanya, pastikan kita mencintai orang-orang yang tepat. Tatkala kita mencintai seseorang, maka kita akan senantiasa menyebut-nyebut namanya. Dengan senang hati pula kita menuruti kata-katanya, juga membelanya.
Dan manakala orang lain menyebut namanya, hati kita langsung bergetar! Itulah tanda-tanda cinta!
Cinta kadang tak perlu diucapkan. Namun terlihat nyata dari sikap kita. Apakah kita sering menyebut-nyebut namanya? Apakah kita menuruti kata-katanya? Begitu terdengar namanya, apakah hati kita langsung bergetar?
Sekali lagi, pastikan kita mencintai orang yang tepat. Bagi seorang muslim, hendaknya ia mencintai Nabi Muhammad dan beliaulah motivator terbaik. Sekian dari saya, Ippho Santosa.
Ippho Santosa Anjurkan Belajar dari Motivator Terbaik
Kebanyakan motivator di Indonesia dan dunia berusaha mempersembahkan yang terbaik. Namun respons publik beda-beda...
"Ikut seminar yuk."
"Wah lagi sibuk."
"Ikut kajian yuk."
"Lagi ada kerjaan."
Mendengar jawaban ini, teman saya langsung nyamber, "Woi! Ente pikir, orang-orang yang ikut seminar dan kajian itu pengangguran apa?" Mereka juga punya kesibukan, tapi bisa menyempatkan diri dan memprioritaskan.
Adabnya ilmu, yah dijemput. BUKAN ditunggu. Terus-terang saya males sama orang yang nyeletuk, "Kapan seminar di daerah A? Kapan seminar di daerah B?" Padahal saya menggelar seminar gratis di daerah C, yang jaraknya tak sampai 2 jam dari daerah A dan B.
Dekat tho? Saya, zaman nggak punya uang, bela-belain berangkat ke Malaysia dan Singapura demi menjemput ilmu. Ketika punya sedikit uang, berangkat ke Australia karena tujuan yang sama. Ilmu.
"Sadar Mas Ippho, bukan seminar yang bikin orang sukses," celetuk mereka. Anak TK juga tahu, hanya Allah yang bikin orang sukses. Cuma, dari sini terlihat bahwa dia tidak memprioritaskan ilmu. Toh anjuran menuntut ilmu itu dari Allah juga.
Padahal ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Dan ingatlah, kalau nasib gitu-gitu aja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, ilmunya gitu-gitu aja. Kedua, action-nya gitu-gitu aja. Ketiga, sedekahnya gitu-gitu aja.
Cari mentor. Cari motivator. Yang terbaik. Lalu, belajarlah darinya.
Happy learning...
"Ikut seminar yuk."
"Wah lagi sibuk."
"Ikut kajian yuk."
"Lagi ada kerjaan."
Mendengar jawaban ini, teman saya langsung nyamber, "Woi! Ente pikir, orang-orang yang ikut seminar dan kajian itu pengangguran apa?" Mereka juga punya kesibukan, tapi bisa menyempatkan diri dan memprioritaskan.
Adabnya ilmu, yah dijemput. BUKAN ditunggu. Terus-terang saya males sama orang yang nyeletuk, "Kapan seminar di daerah A? Kapan seminar di daerah B?" Padahal saya menggelar seminar gratis di daerah C, yang jaraknya tak sampai 2 jam dari daerah A dan B.
Dekat tho? Saya, zaman nggak punya uang, bela-belain berangkat ke Malaysia dan Singapura demi menjemput ilmu. Ketika punya sedikit uang, berangkat ke Australia karena tujuan yang sama. Ilmu.
"Sadar Mas Ippho, bukan seminar yang bikin orang sukses," celetuk mereka. Anak TK juga tahu, hanya Allah yang bikin orang sukses. Cuma, dari sini terlihat bahwa dia tidak memprioritaskan ilmu. Toh anjuran menuntut ilmu itu dari Allah juga.
Padahal ilmu itu cahaya. Fakir itu gelap. Mereka yang sungguh-sungguh dengan ilmu, dijamin tidak fakir. Dan ingatlah, kalau nasib gitu-gitu aja, maka ada tiga kemungkinan. Pertama, ilmunya gitu-gitu aja. Kedua, action-nya gitu-gitu aja. Ketiga, sedekahnya gitu-gitu aja.
Cari mentor. Cari motivator. Yang terbaik. Lalu, belajarlah darinya.
Happy learning...
Langganan:
Postingan (Atom)



